Kukuh Setiawan. Gambar tema oleh centauria. Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 16 Oktober 2011

pertemuan 2 (Allah)

    0

Tugas Kuliah ke 2
Pendidikan Agama Kristen Protestan
Pertemuan ke 2
Drs. AZ. Jaffrie. BA


ALLAH

Pokok Bahasan ini, membicarakan tentang Allah. Dlam pembahasan sebelumnya telah dibicarakan tentang adanya orang kristen, sebagai umat Allah. Dalam pembahasan ini dibicarakan tentang bagaimana pemahaman umat Allah akan Allahnya.

1.Pengertian
Perlu ditekankan bahwa pengertian “umat Allah”, tidak seperti pengertian “Penduduk Jakarta” atau “warga negara Indonesia” atau “Suku Jawa”, dan sebagainya. Ada penekanan yang berbeda, karena kata “Allah” dalam ungkapan umat Allah menunjukan pada suatu dimensi dalam persekutuan ini yang berbeda dengan kehidupan Persekutuan lain, berdasarkan ikatan kekeluargaan atau ikatan Politis. Persekutuan Umat Allah adalah Persekutuan Iman, yang didasarkan pada penghayatan dan keyakinan tertentu dan khusus, dan yang diwarnai oleh suatu cara pengungkapan tertentu dan khusus pula.


Pengertian umat Allah secara singkat, yaitu bahwa umat Allah adalah suatu persekutuan (komunitas) yang percaya kepada Allah, suatu komunitas  iman, suatu komunitas yang dikuasai dan dibentuk oleh suatu kepentingan tertentu. Hubungeannya denagan Allah dilakukan dengan suatu pola berbahasa tertentu. Hubungannya dengan Allah dilakukan dengan suatu pola tertentu, bahasa Ilahi. Dalam hal iniAllah dilihat sebagai Allahyang mengatur, menguasai, mngarahkan, dan menentukan kehidupan umat-Nya.
Namun, sejauh mana pengertian dan pemahaman kita tentang apa yang akan disebut sebagai Allah itu, benar-benar nampak sebagai yang mengatur, mengatasi, menguasai, mengarahkan dan menentukan kehidupan manusia, terutama bagi kita  yang hidup di masa kini? Sejauh mana “Allah” berperan dalam kehidupan manusia?

2. Sikap hidup manusia  modern
Pertanyaan diatas diajukan karena, tampaknya, dalam kehidupan manusia modern ini, yang kemajuan ilmuadan teknologi sudah sedemikian pesatnya. Allah seakan-akan sudah tidak berbuat dan berperan apa pun dan tinggal sekedar sebagai suatu lambang religius. Beberap contoh dapat disebutkan untuk membantu memahami pertanyaan tersebut diatas suatu saat manusia berdoa kepada Allah untuk meminta tujuan, tetapi kinidengankemajuan teknologi yang ada manusia berusaha membuat hujan buatan, dan terlihat cukup berhasil. Pada saat yang lain manusia memohon kepada Tuhan agar ia memberkati usaha mereka di bidang pertanian demi mendapatkan hasil panen yang melimpah. Tetapi kini ada banyak usaha manusia, dengan mempergunakan teknologi yang sudah ada, meningkatkan hasil panennya. Atau juga pada masa lalu, dan mungkin masih sering tampak pada masa kini, ketika terjadi wabah penyakit menular. Manusia bedoa kepada Allah untik menghentikan wabah dan melihat adanya wabah sebagai murka dan hukuman Allah atas dosa-dosa manusia. Namun kini dunia kedokteran modern telah memberikan jawaban bagi usaha pemberantasan dan pencegahannya.
Apakah allah sudah tidak dibutuhkan lagi oleh manusia modern? Apakah allah hanyalah sisa-sisa pemahaman masa lampau.? Apakah Allah telah mengalami kematian “ dalam proses pemahaman dan penghayatan manusia modern? Bukanlah dalam banyak bidang dalam masa lalu berada dibawah kontrol dan pengusasaan Allah, seperti misalnyagejala-gejalanya dapat dikuasai dan diarahkan serta diperhitungkan oleh manusia  sendiri?? Masih adakah daerah-daerah dan bidang-bidang dalam kehidupan manusia yang menampakan ketergantungan mutlak terhadap Allah? Dalam bidang moral etiskah? Atau juga, masih adakah unsur-unsur dalam kehidupan manusia modern yang belum terjamah oleh ilmu dan teknolgi modern?

3. Menghindari Kesalahpahaman.
Di dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, pada suatu pihak, kita perlu berhati-hati akan bahaya kesalahpahaman yang dapat dan mungkin terjadi. Kita perlu berhati-hati akan bahaya kesalahpaham nyang dapat dan mungkin terjadi. Kita perlu berhati-hati untuk tidak cenderung berpikir menurut paham-paham dalam sekularisme.atau bahkan menyangkali adanya Allah. Misalnya  salah satu aspek dari proses sekularisme adalah secara bertahaop membebaskan dunia ini dari yang dianggap berada dibawah kontrol/pengawan sesuatu yang supernatural (Allah)  dan bersamaan dengan itu memperluas pengawasan (kontrol) manusia, sehingga dunia alamiah (natural) ini makin menjadi dunia manusiawi. Padahal, ”rasa ketergantungan yang absolut (mutlak)“ merupakan intisari religi dan menujukan kepada realitas  Allah. Pernyataan – pernyataan diatas dapat saja dibutuhkan demi memahami lebih dalam siapakah  Allah itu menurut pemahaman iman kita.
Theologia bukanlah suatu pengetahuan yang statis. Demikian pula dengan ajaran tentang kepercayaan kepada Allah, harus terus dipertimbangkan demi dapat menjawab masalah-masalahyang dihadapi manusia modern. Namun, pihak lain pemahaman akan allah tidak perlu berarti bahwa ajaran dan konsepsi tentang allah harus sesuai dengan konsepsi manusia. Biarlah allah tetap menjadi allah dan bukan menjadi seperti apa yang kita inginkan.

4. Manusia Mengerti akan Allah
Telah dikatakan diatas bahwa persekutuan dari umat Allah ini adalah suatu persekutuan iman, yang didasarkan pada pengkhayatan dan keyakinan tertentu dan khusus pula. Manusia dapat disebut sebagai umat Allah disebabkan oleh adanya suatu hubungan khusus antara manusia (sebagai umat) dengan Allahnya. Ada sesuatu yang mempertalikan keduanya. Dan apakah sesuatu yang menghubungkannya?
Apabila kita berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan diatas dari segi manusia maka langkah pertama adalah mencari jawab atas pertanyaan bagaimana manusia (umat Allah) mengakui adanya tindakan Allah dalam hidupnya. Dan jawabnya adalah dari pengalaman-pengalaman manusia yang dialaminy di sepanjang hidupnya. Manusia merasakan asanya sesuatu yang berada diluar jangkauan akal-pikiran dan pengetahuannya. Ada sesuatu yang mempengaruhi kehidupannya. Manusia merasa bahwa hidup ini dan kehidupannya berasal dari suatu sumber dan merupakan anugrah yang diterimanya. Hal ini diketahui lewat pewahyuan dan penyataan kepada manusia, bukan sebagai sesuatu yang telah direncanakan manusia sebelumnya. Berdasarkan pengalaman-pengalaman ini, manusia melihat hidupnya secara baru atau manusia hidup sebagai manusia baru. Dua kata kunci yang berhubungan dengan pengalaman manusia adalah kata “anugerah” dan kata “pernyataan”
Dengan demikian “Allah” dipandang sebagai sumber dari segala anugerah yang dikaruniakan kepada manusia, dan sumber dari mana segala pernyataan diwahyukan kepadanya, dan sebagai jawaban manusia kan anugerah pernyataan itu, manusia meng”iman” Allah. Dalam iman Allah menjadi pola idup manusia dan sumber dari adanya manusia. Pada satu pihak, dan pada pihak lain, Allah yang tuntutan dan kehendakNya harus ditaati dan dilaksanakan oleh umatnya.

5. konsepsi dasariah tentang Allah.
Dalam pemahaman seperti diatas, tampak adany konsepsi dasariah tantang Allah. Allahadalah sumber dan asal mula segala sesuatu. Allah bekerja di dalam segala hal dan terhadap semua manusia dan mengangkat serta mempertinggikan keberadaan mereka. Umat Allah menguji kebenaran dari konsepsi ini lewat pengalaman-pengalaman hidup mereka yaitu bahwa Allahlah yang membawa umatNya kedalam keberadaan sebagai umat Allah, dan lewat sejarah umat ini Allahlah membangun kehidupan mereka menjadi kehiduopan yang sempurna dan berharga. Itu ternyata dari kelimpahanhidup yang tidak habis-habisnya. Misalny, pengertian tentang Allah adalah kasih tampak dalam pandangan tentang Allah sebagai Allah yang menganugerahkan dan meninggikan keberadaan manusia dan keterbatasan mereka.
Namun konsep tentang Allah ini belum menjawab peesoalan dalam dunia modern ini. Ada dua masalah utam yang menyangkut Allah sebagai sumber. Pertama, apakah Allah memang menguasai seluruh kehidupan manusia ataukah hanya dalam bidang tertentu saja? Sebab, kenyataannya Allah seringkali hanya dibutuhkan dalam bidang-bidang yang ilmu pengetahuan belum menjamahnya. Padahal dalam pemahaman umatNya, Allah mempunyai tempat dan kedudukam sentral. Tetapi ada satu hal yang perlu diingat, bahwa Allah bukanlah jawaban pada pertanyaan-pertanyaan yang mendasar pada semua hal, atau pada pertanyaan yang mendasari segala hal lain, misalny pertanyaan tentang apakah hal yang sungguh-sungguh nyata, bernilai dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjelaskan bahwa percaya kepada Allah atau tidak percaya kepada Allah bukanlah murni pertanyaan intelektual. Seseorang yang merasakan akan kehidupannya atau seseorang yang membuat skala prioritas dalam hidupnya akan sangat berbeda dengan seseorang yang percaya bahwa Allah sebagai realitas utama menjadi atau tidak menjadi subjek pemujaanya. Kedua, yang berhubungan dengan kehendak yang mutlak. Apakah Allah adalah Allah yang Maha berkehandak dan yang kehendakNya menjadi patokandalam kehidupan manusia? Menjawab pertanyaan itu, kita perlu melihat kembali pada pemanggilan Abraham. Abraham dipanggil dan diperintahkan Allah untuk meninggalkan tanah kelahirannya tanpa memberikan alsn apapun kecuali janji keberkatan. Menuntun umatnya dalam mereka memasuki sesuatu yang baru dan tidak dikenal sebelumnya. Tetapi juga terlihat bahwa Allah adalah Allah yang maha memberi dan Allah yang memanggil umatnya untuk hidup dalam saling memberi dan saling menunjang. Memang, seringkali manusia sesar dalam pikiranny tentang Allah, atau kemudian menggantikan Allah dengan berhala buatannya. Tetapi Allah yang disaksikan umat nya ini dalam sejarah bukanlah Allah menurut keinginan manusia.


6. Allah menjadi Jawaban dalam Pertanyaan Dasariah tentang Dunia Natural
Mungkin kita berpikir bahwa pada suatu ketika semua pertanyaan dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan. Namun akan segera tampak semua pertanyaan itu adalah mengenai bagaimana segala peristiwa terjadi di dunia, dan bukan pertanyaan mengapa ada suatu dunia, apakah mungin tercipta dari suatu khaos (kekacaubalauan) ataukah dari ketiadaan. Tetapi walaupun pertanyaan ini mungkin menarik atau menggugah, apakah bila tidak ditemukan jawabannya atau bila orang berkata bahwa tidak ada jawaban atau tidak terjawab, mka pertanyaan ini tidak bermakna untukadipertanyakan? Ada 2 kemungkinan, orang akan berkata “ya” ataukah secara serius orangakan terus mempertanyakan dan jawabannya terlihat dari sikap hidup praktis mereka. Kemungkinan kedua ini akan terlihat dalam sikap umat Allah. Dari kata Allah terletak jawaban pertanyaan “mengapa suatu dunia?”, yaitu dunia ada karena kasih. Karena Allah adalah kasih, dan jika masih merupakan suatu realitas utama, kasih harus tampak dalam praktek hidup manusia.
Namun untuk membuktikan hal ini tidak mudah, apabila pertanyaan tentang dunia sebagai satu keseluruhan hendak dibuktikan.harus diakui bahwa pernyataan ini tidak dapat diuji seperto menguji hipotese ilmiah tentangsuatu bidang fenomena dalam dunia. Namun tidak berarti bahwa pernyataan tentang dunia sebagai satu keseluruhan tidak berarti apa-apadan tidak dapat diuji.
Ada teologia yang dengan penuha semangat berusaha membuktikan akan keberadaan (eksistensi) Allah. Namun jika seseorang menyatakan eksistensi ini dan menegaskan bahwa Allah asalah kasih, ia harus memperhadapkan pernyataanya dengan dunia natural yang dikenal lewat ilmu pengetahuan.

Dunia natural adalah dunia dengan struktur dan aturan alam semesta yang dapat diandalkan dan bukan khaos. Namun alam semesta ini bukanlah proses yang diatur secara sangat impersonal. Ia telah menghasilkan pribadi-pribadi, dan kehidupan pribadi merupakan bagian dari alam semesta. Ia telah menghasilkan pribadi-pribadi, dan kehidupan pribadi merupakan bagian dari alam semesta. Sebaliknya, alam semesta ini dimaksudkan untuk memberikan kehidupan dan kepribadian. Tetapi jika demikian, apakah kita menganggap atau haruskah kita menganggap bahwa daya kreatif yang bekerja di dalamnya adalah kehidupan dan kepribadian itu sendiri? Disini kita hanya akan berbicara dengan kemungkinan-kemungkinan dan bukan kepastian-kepastian. Ada banyak pengertian ganda dalam gambaran seperti itu, terutama adanya fakta tentang kejahatan, padahal kita berbicara tentang iman dan bukan ilmu pengetahuan. Baik dalam persekutuan orang percaya maupun dalam pengalaman individu, dalam dirinya sendiri, iman mampu menerangi banyak aspek dalam kehidupan manusia.

7. Allah sebagai jawaban atas pertanyaan Dasariah tentang Kewajiban Moral
Apabila perhatian kita dialihkan dari alam kepada kehidupan manusia, kita akan mengakui adanya kewajiban-kewajiban moral sebagai sesuatu yang muncul dari pengalaman manusia yang terdalam. Dalam situasi yang terus-menerus berubah, kita harus mempertanyakan diri kita tentang apa yang sebaiknya kita perbuat; atay mengapa aku sebaiknya melakukan sesuatu hal; atau apa yang dimaksudkan dengan sebaiknya atau seharusnya itu?
Harus diakui, tampak adanya seatu kewajiban moral tanpa menyangkali status kita sebagai pribadi. Untuk dapat menjadi bagian dalam persekutuan (komunitas), syaratnya adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban dasar yang harus dipatuhi. Kewajiban dasar ini bukanlah suatu ciptaan pribadi atau masyarakat. Apabila kita mengatakan ciptaan Allah kita dapat mengatakan bahwa kewajiban itu dimasukkan dalam struktur realitas.  Dan klewajiban moral merupakan petunjuk kepada cara berada. Dalam hal ini kewajiban moral termasuk kepada keberadaan Allah, dalam pengertian bahwa kewajiban moral adalah “karunia” dasar.



8. Sekali lagi, Manusi mengerti Allah
Mungkin ada banyak lagi pendekatan-pendekatan terhadap Allah. Tetapi yang jelas bahwa semuanya melihat Allah sebagai realitas spiritual utama. Namun pendekatan diatas terjadi dalam pengalaman-pengalaman akan anugerah dan pernataan dari semua komunitas iman. Hal ini tidak berarti bahwa percaya kepada Allah terjadi melalui perenungan akan pertanyaan seperti “mengapa suatu dunia?” atau “ apakah kewajiban moral itu?” petanyaan-pertanyaan diatas merupakan akibat dari iman dan bukanlah sebab dari iman. Iman berasal dariperistiwa-peristia yang memperluas pandangan, seperti kehidupan dan kematian Yesus dalam pengalaman kristen atau pembebasan dari Mesir dalam pengalaman bangsa israel, dan argumen-argumen lain dan melawan realitas Allah hanya berlangsung ketika terjadi pemahaman tentang maka dari pengalaman-pengalaman nyata. Namun iman dan pernyataan tidaklah berdiri sendiri. Pernyataan bukanlah suatuapembuktian diri. Pernyataan harus ditempatkan dalam konteks dari seluruh pengalamannya dan bertanya sejauh mana pernyataan didukung oleh pengalaman.

 Allah adalah unik dan tidak terbandingi. Maka bagaimanakah kitadapat menerima suatu pernyataan tentang Allah atau membentuk suatu konsep tentang Allah atau membentuk konsep tentang Allah atau bahkan mengucapkan namaNya? Bahasa kita telah dipertimbangkan untuk berbicara tentang Allah? Bahasa kita tentang Allah bukanlah bahasa lieral, bahasa khayal. Apabila manusia bersikeras memakai bahasa Allah secara harafiah, mereka menjadikan Allah sama dengan makhluk-makhluk yang terbatas dan menyebabkan seluruh catatan tentang Allah menjadi tidak masuk Akal.

Ada dua bentuk prinsip dari bahasa Allah yang berhubungan dengan dua cara yang mana sifat manusia kita sendiri menujuk kepada Allah. Pertama, manusia diarahkan kepada Allah secara negatif oleh pengertianny yang terbatas, dan hal ini menimbulkan “cara negasi” 
(penyangkalan dalam berbicara tentang Allah). Banyak kata yang kita pergunakan tentang Allah merupakan kata negatif, misalnya tidak terbatas, tidak berubah, dsb. Kedua , manusia berbicara dengan analogi(persamaan). Pada dasarnya manusia berada dalam peninggian diri. Selalu ada sesuatu yang “ lebih” ,yang disebut “kemajuan”apapun yang baik dalam kehidupan manusia, sepertiakebijaksanaan, kebaikan, kasih, dan sebagainya, menunjuk pada kelebihan itu sendiri, dan bukan persoalan sejauh mana kita meninggikan sifat-sifat ini, tidak pernah berakhir dalam pemahaman. Jika Allah adalah realitas utama dan nilai utama,  Allah harus berada pada batas dari semua sifat-sifat baik ini, suatu batas yang dapat kita bayangkan, namun untuk mana kita diarahkan bila kita berkata Allah adalah kasih, Allah adalah bijaksana, dan sebagainya.

Karena bahasa kita tentang Allah bukanlah bahasa literal (harfiah) tetapi bahasa yang khusus, sering menyebabkan perbedaan makna. Akibat kita harus juga mempergunakan pengertian lain untuk menyeimbangkannya. Misalnya apabila kita berkata tentang Allahsebagai “diatas” dunia. Ini bukan pertentangan, tetapi muncul dari ketidaktepatan bahasa kita.
Hubungan Allah dengan dunia juga unik. Jika berusaha membayangkan dengan mempergunakan gambaran dari hubungan yang renggangm kita akan memberikan pandangan yang sepihak dan menyimpang, seperti bila berbicata tentang Allah hanya sebagai “diatas” atau hanya sebagai “di dalam”. Kita harus berkata bahwa ia berada diatas dan didalam. Secara hardiah, jika seseorang berbicara tentang objek-objek yang terbatas dalam lingkungan dunia, hal ini agaknya tidak mungkin, tetapi secara analisis, ia menolong menjelaskan suatu kompleks hubungan yang unik.



Latihan
Bacalah : Yesaya 10:18-31; Kolose 1:15-19
Penyelidikan :
  1. Meskipun Allah tidak dapat disamakan dengan siapapun juga (Yesaya 40:18,25), tetapi Allah telah menyatakan keadaan Allah menurut Yesaya 40:26-29?
  2. Apa aspek kekekalan Allah dalam Yesaya 40:28?

3.      Apa yang Alkitab katakan tentang Allah dalam diri yesus menurut Kolose 1:15-19?
Jawab :
  1. a. Yesaya 40:18,25
Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu angap serupa dengan dia?
Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia?
Firman yang Mahakudus.
 -Yesaya 40 :26-29
Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah : siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya?

Satu pun yang tak hadir, oleh sebab ia maha kuasa dan maha kuat.
Mengapa engkau berkata demikian, hai yakub, dan berkata begini, hai Israel : “Hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan Hakku tidak diperhatikan Allahku?”

Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar?

Tuhan ialah Allah yang kekal yang menciptakan bumi dari ujung-keujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
2.      Tuhan adalah yang maha sempurna dari segala-galaNya.
  1. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan ada yang dibumi, yang kelihatan dan tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintahan maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan  untuk dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena segala kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.

Bottom of Form

Tidak ada komentar:
Write komentar

statistics

Translate

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *