Seandainya Bumi Punya 2 Bulan, Apa yang Terjadi?

Halo, Semuanya. Kembali lagi bersama channel kesayangan kalian semua, apalagi kalau bukan channel Bicara. Membahas topik astronomi memang nggak pernah ada habisnya ya. Alam semesta kita memiliki banyak misteri yang sampai saat ini masih belum juga terpecahkan.

Di video kali ini, channel Bicara akan membahas bagaimana jika Bumi punya 2 Bulan? Hmm, menarik juga ya. Kira-kira kalian pernah membayangkan hal ini nggak? Setiap malam kita melihat 2 benda yang bersinar di langit. Pastinya bakal indah banget, apalagi kalo dilihat berdua sama pacar.

Tapi apa ya dampaknya buat Bumi?

Bumi punya banyak “teman”

Jadi kalian semua pasti sudah tahu bahwa Bulan adalah satu-satunya satelit alam punya Bumi. Sebenarnya bukan hanya bulan aja yang menemani Bumi berkeliaran di alam semesta. Ada benda-benda kecil lain seperti asteroid.

Tapi Bulan memang benda langit terbesar yang menemani Bumi, dan membawa pengaruh langsung bagi kehidupan di Bumi. jika bumi memiliki 2 bulan artinya bumi memiliki teman lain.

Dulu, Bumi punya dua Bulan

Kalau kalian sudah menonton video channel Bicara tentang penampakan Bumi di masa lalu, kalian pasti tahu kalau Bumi pernah punya dua satelit. Tapi karena ukuran Bulan yang tidak sama, Bulan yang lebih kecil hancur saat keduanya bertabrakan.

Sekarang kita bayangkan kalau Bumi punya Bulan kedua yang diameternya 1000 km, sama seperti Bulan kecil yang dulu pernah dimiliki Bumi. jaraknya dengan Bumi juga sama seperti Bulan besar. Kira-kira, bisa nggak ya mereka berdua terlihat di langit secara bersamaan?

Kalau kalian penasaran, jawabannya adalah bisa. Kedua Bulan akan muncul seperti sepasang mata, hanya saja yang satunya lebih kecil, yaitu 1/3 ukuran bulan besar.

Ombak besar di lautan

Di channel Bicara ini sudah banyak video yang menjelaskan pentingnya peran Bulan buat Bumi, salah satunya mengendalikan arus ombak. Kalian yang setia mengikuti channel Bicara pasti udah paham banget deh.

Jika ada 2 Bulan, maka ombak di laut menjadi lebih besar, tapi tidak berbahaya. Kalian yang hobi surfing pasti bakal seneng deh dengan ombak di laut ini kalian pasti akan senang. ombak ini dipangaruhi oleh gaya gravitasi dari bulan.

Kedua Bulan akan bertabrakan (lagi)

Ada 2 Bulan yang melintasi 1 orbit, pasti ini mengganggu keseimbangan. Meski awalnya baik-baik saja, gerak satu sama lain menjadi tidak stabil. Karena adanya gaya gravitasi Bulan, kedua Bulan ini bergerak semakin mendekat.

Akhirnya, apa yang terjadi 4 miliar tahun lalu akan terjadi lagi: kedua Bulan saling bertabrakan secara perlahan. Seperti video yang diberik efek slow motion. Tapi ledakan ini tidak berpengaruh bagi Bumi. sisa ledakan Bulan kecil akan tertarik ke permukaan Bulan besar, membentuk gunung debu di atas permukannya.

Tapi apa jadinya kalau dua Bulan punya ukuran sama besar di orbit berbeda?O

2 bulan besar bertabrakan

Meski punya orbit masing-masing dan ukurannya sama besar, kedua Bulan akan tetap bertabrakan. Lambat laun mereka berdua akan menjauh dari orbit Bumi dan saling berbenturan. Nah, jika yang pertama tadi tidak berdampak ke Bumi, tabrakan 2 Bulan besar ini akan mengirimkan hujan debu ke Bumi.

Bumi kita akan dihujani badai meteor berukuran besar yang bisa membuat semua makhluk hidup punah! Sisa debu yang tidak jatuh ke Bumi akan membentuk Bulan baru. Kalau ini terjadi mungkin akan ada peradaban baru di Bumi kita. Seperti munculnya manusia modern setelah zaman dinosaurus.

Kesimpulan

Well, apa-apa yang berlebihan itu memang tidak baik guys. Jika Bumi sudah punya satu Bulan, udah bersyukur aja lah. Karena kalau sampai punya 2 Bulan yang ada Bumi akan hancur. Sama nih seperti kalian yang setia aja sam satu orang. Jangan lirik-lirik apalagi pengen punya dua. Haha.

Sekian dulu pembahasan kali ini. Terima kasih sudah mau menonton video ini sampai habis. jangan lupa untuk klik tombol subscribe bagi yang belum karena Channel Bicara masih punya banyak video lain tentang astronomi lho. Makanya, ikuti terus update dari kita ya. Sampai jumpa! Bye!

Sumber

What If The Earth Had Two Moons? – YouTube (Diakses pada 4 April 2019)