alam semesta

Big Bang merupakan salah satu teori model kosmologi tentang asal-usul alam semesta yang paling mendekati kebenaran. Meski begitu, ternyata para ilmuwan pernah membantah teori tersebut. Gagasan ilmiah selalu berubah berdasarkan perhitungan dan bukti. Artinya manusia selalu mencari teori lain sebagai alternatif jawaban.

Meski bukti-bukti ilmiah lebih mendukung adanya Big Bang, tidak ada salahnya jika kita mempelajari teori alternatif pembentukan alam semesta. Berikut ini merupakan beberapa teori-teori terbentuknya alam semesta yang pernah diusulkan dalam jagad ilmiah.

Steady State Universe

Salah satu teori yang bertentangan dengan teori Big Bang adalah Steady State Universe atau Alam Semesta Stabil. Dalam teori ini, Alam Semesta digambarkan tidak memiliki permulaan atau statis, bahkan tidak memiliki akhir. Alam semesta dalam teori ini digambarkan terus berkembang tetapi dengan kepadatan yang terlihat selalu sama. Galaksi, planet, dan materi lainnya tercipta secara terus menerus.

Teori ini diusulkan pertama kali pada 1920 oleh James Jeans. Kemudian dikemukakan kembali oleh Hermann Bondi dan Thomas Gold pada 1947. Geoffrey Burbidge juga memperjuangkan teori ini bahkan menolak untuk membantah teori ini. Ia menjadi kosmolog terakhir yang mempercayai Stady State Universe, tetapi ia menerima teori Big Bang dalam bentuk yang berbeda.

Bouncing Cosmology

Teori Big Bang menyebutkan bahwa alam semesta mengembang dari satu ledakan titik gravitasi dengan kerapatan yang terus berkembang. Model itu disebut sebagai model inflasi. Berbeda dengan model Bouncing Cosmology atau Big Bounce yang menyatakan alam semesta mengalami ekspansi (pelebaran) dan kontraksi. Di satu sisi, ia sepakat bahwa alam semesta meluas.

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Silva Neves dalam jurnal General Relativity and Gravitation. Teori tersebut menyatakan alam semesta memantul setiap menyusut ke ukuran tertentu. Alam semesta telah berkontraksi sebelum memantul (bouncing) pada masa lalu kemudian berkembang secara terus menerus.

Plasma Universe (Teori Electric Universe)

Dalam teori Plasma Universe atau Electric Universe, gravitasi disingkirkan. Fokus utama dalam teori ini adalah plasma dan elektromagnetisme. Plasma dianggap sebagai bagian penting dari peristiwa kosmologi dan alam semesta itu sendiri. Teori ini menjelaskan bahwa arus listrik mengalir dalam bentuk filamen plasma dan daya galaksi. Arus tersebut mengalir menuju bintang-bintnag dan memberikan kekuatan untuk memancar. Sekaligus mendorong pembentukan planet-planet.

Teori ini pertama kali dicetuskan pada 1930-an oleh Hannes Alfvén. Alfvén berpendapat bahwa plasma menembus alam semesta, maka plasma dapat mengalirkan arus listrik yang dapat menghasilkan medan magnet galaksi. Sayangnya, teori ini tidak memiliki bukti melalui pengamatan yang sudah dilakukan. Bahkan teori Electric Universe tidak memenuhi definisi teori karena tidak dapat digunakan untuk membuat prediksi tentang peristiwa alam atau fenomena yang belum diamati.

Teori Lubang Hitam (Black Hole)

lubang hitam
Messier 87/Wikimedia Commons.

Teori ini menyebutkan bahwa alam semeta berasal dari hadirnya Lubang Hitam dari alam semesta lain. Untuk itu kita hidup di luar horizon peristiwa Lubang Hitam. Para peneliti dari Universitas Perimeter menunjukkan makalah yang menyebutkan bagaimana Lubang Hitam dianggap sebagai asal mula alam semesta kita.

Fisikawan Nikodem Poplawski dari Universitas Indiana, menyatakan bahwa alam semesta dapat diamati menjadi bagian dalam Lubang Hitam, merupakan sebagai salah satu dari banyak alam semesta lain atau multiverse. Bisa dikatakan, bahwa di balik Lubang Hitam terdapat pembentukan alam semesta baru. Sayangnya karena kita tidak dapat melintasi horizon peristiwa, kita kesulitan untuk membuktikan benar atau tidak adanya teori ini.

Alam Semesta Simulasi

Teori ini baru-baru saja muncul. Alam semesta dalam teori tersebut dikatakan bahwa kita hidup dalam simulasi. Gagasan ini muncul layaknya di dalam film-film fiksi ilmiah. Lucunya lagi gagasan ini juga disebutkan oleh Elon Musk yang mengatakan bahwa alam semesta simulasi yang diciptakan oleh program komputer bisa sepenuhnya terbukti.

Para fisikawan dari Universitas Oxford akhirnya meneliti gagasan ini lebih lanjut. Hasil dari gagasan ini menunjukkan bahwa alam semesta kita tidak tercipta dari program komputer. Para peneliti menilai teori ini tidak berdasar, karena tidak mungkin ada komputer yang bisa menghitung segala sesuatu di alam semesta.

Bahkan jika ada, ia harus cukup kuat untuk menghitung gerak setiap partikel. Agar komputer dapat memproses dan merekam data elektron, memori akan membutuhkan lebih banyak atom daripada yang tersedia di alam semesta dengan penambahan partikel.

Jadi, kemungkinan besar kita tidak berasal dari perhitungan komputer apalagi merupakan simulasi dari alien yang sedang coba-coba membuat alam semesta baru.

Kesimpulan

Itulah 5 teori alternatif pembentukan alam semesta. Mulai dari teori Steady State Universe, Bouncing Cosmology, Plasma Universe, berasal dari Black Hole, hingga merupakan Alam Semesta Simulasi. Saat ini banyak pengamatan yang membuktikan bahwa Big Bang merupakan teori yang paling dekat dengan pembentukan alam semesta.

Gagasan baru tentang pembentukan alam semesta dapat kita terima sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan. Kita juga harus memahami bahwa sains terus berkembang. Bahkan, bisa saja ada teori baru pembentukan alam semesta yang menggantikan Big Bang.

Tapi dibalik semua teori teoritadi, mana teori yang paling kalian percaya kebenarannya? boleh ungkapkan pendapat kalian di kolom komentar ya teman teman.

Well, sampai disini dulu pembahasan mengenai teori pembentukan alam semesta. Tetap stay tune di Bicara Indonesia untuk terus mendapatkan informasi menarik lainnya mengenai alam semesta. Nanti kita akan update lagi mengenai teori teori lain yang ada di alam semsta kita di artikel berikutnya, oke? Sampai Jumpa di artikel selanjutnya ya!

Sumber :

  • 5 Alternatives to the Big Bang Theory – Interestig Engineering.
  • Alternatives to the Big Bang Theory Explained (Infographic) – Space.

(Diakses 22 Juli 2020)