10 Virus Mematikan di Bumi

10 Virus Mematikan di Bumi – Sejak sebelum manusia berevolusi ke dalam bentuknya yang paling modern, manusia telah berperang dengan virus mematikan yang jenisnya tidak sedikit. Untuk mengurangi penyebarannya yang cenderung mudah dan cepat, manusia telah membuat berbagai vaksin dan antivirus. Mulai dari teknik pengobatan kuno hingga pengobatan modern. Semakin berkembang teknologi pengobatan dan ilmu pengetahuan, semakin banyak orang yang sembuh dari infeksi virus mematikan.

Namun meskipun zaman semakin maju, manusia belum sepenuhnya bebas dari virus. Saat ini masih banyak virus yang hidup di antara manusia, bahkan virus yang berkembang ke dalam bentuk baru dan menyebabkan jutaan jiwa meninggal setiap tahunnya. Seperti misalnya virus Covid-19 yang menjadi salah satu pandemi terburuk dalam sejarah.

10 virus mematikan yang ada di Bumi

Selain Covid-19 yang begitu mempengaruhi kehidupan di Bumi ini, masih ada 10 virus mematikan lain yang sering ditemui. Berikut adalah ulasannya.

HIV

 HIV
Hasil pindai mikrograf elektron HIV-1. (Wikipedia)

Human Immunodeficiency Virus (HIV) bisa dibilang merupakan virus yang paling mematikan yang pernah ada. Sejak penemuan virus ini pertama kali pada awal tahun 1980-an, sudah ada sekitar 32 juta orang yang meninggal karena HIV.

Adapun pengobatan yang tersedia saat ini ‘hanyalah’ terapi obat yang dapat memperpanjang waktu hidup penderitanya dan membuatnya bisa menjalani keseharian dengan lebih nyaman. Sementara obat yang dapat menyembuhkan penderita dari virus HIV sepenuhnya hingga sekarang masih belum ditemukan.

Penyakit yang merusak sistem imun tubuh ini terus menyerang banyak negara berpenghasilan rendah hingga menengah, di mana 95 persen infeksi HIV ditemukan di negara-negara tersebut.

Ebola

Pada tahun 1976, penyebaran Ebola pertama pada manusia terjadi di Sudan dan Kongo. Virus mematikan ini menular lewat kontak dengan cairan tubuh penderita seperti darah atau jaringan tubuh orang atau hewan yang terinfeksi.

Virus ini memiliki jenis-jenis yang berbeda. Salah satu jenisnya yaitu Ebola Reston yang tidak menimbulkan gejala apa-apa. Sementara jenis Ebola Bundibugyo, tingkat kematiannya bisa mencapai 50 persen dan 71 persen untuk jenis Ebola Sudan.

Jika terkena virus ini, penderitanya dapat mengalami demam, pendarahan hingga kerusakan fungsi organ. Menurut WHO, per 28 Mei 2020, ada 3.463 kasus dengan total kematian 2.280 jiwa.

Cacar air

Meski sekilas cacar air nampak sebagai virus yang tidak begitu berbahaya, sebenarnya penyakit ini adalah salah satu dari virus mematikan yang diam-diam mengancam populasi manusia.

Pada tahun 1980, World Health Assembly telah menyatakan bahwa dunia telah bebas dari cacar air. Namun sebelum itu ada perjalanan panjang pertarungan manusia dengan cacar air selama ribuan tahun. Penyakit ini dapat membunuh 1 dari 3 orang yang terinfeksi, dapat menyebabkan luka yang dalam dan permanen, dan dalam beberapa kasus yang tak terkendali, cacar air dapat menyebab kebutaan.

Tingkat kematian karena penyakit ini jauh lebih tinggi di negara-negara di luar Eropa. Sebagai contoh, para pakar sejarah memperkirakan sekitar 90 persen populasi asli Amerika meninggal karena cacar air yang dibawa oleh penjelajah dari Eropa. Di abad ke-20 saja cacar air telah menewaskan 300 juta orang.

Dengue

Virus yang menyerang lewat gigitan nyamuk aedes aegypti ini hingga sekarang masih menjadi penyakit yang setiap tahunnya menelan ribuan nyawa di Indonesia. Beberapa saat lalu ketika Covid-19 mulai menyebar di Indonesia, demam berdarah memakan lebih banyak korban dari pada Covid-19.

Virus Dengue yang pertama muncul tahun 1950-an di Filipina dan Thailand ini banyak menyerang daerah-daerah beriklim tropis dan subtropis di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Menurut Kementerian Kesehatan, sejak 1 Januari hingga 27 April 2020 telah tercatat 49.563 kasus DBD di Indonesia. Ini artinya ada penambahan 1.000 kasus baru setiap harinya. Di seluruh dunia sendiri, virus DBD menyerang 50 hingga 100 juta orang per tahun, berdasarkan data WHO.

Meskipun tingkat kematian yang diakibatkan oleh virus ini relatif lebih rendah yaitu sebesar 2,5 persen, DBD bisa menyebabkan demam hemoragik atau demam yang menimbulkan pendarahan seperti Ebola. Kondisi ini jika tidak ditangani dengan benar dapat meningkatkan tingkat kematian menjadi 20 persen.

Rabies

Vaksin rabies untuk hewan peliharaan telah ditemukan pada tahun 1920-an sehingga penyebaran virus yang menular pada sesama hewan ini menjadi sangat langka di negara maju. Akan tetapi di India dan sebagian wilayah Afrika penyakit yang disebabkan oleh virus ini masih mengancam.

Vaksi untuk menangkal rabies telah ditemukan dan manusia pun sebenarnya memiliki antibodi yang juga dapat melawan virus ini. Yang membuat rabies menjadi virus mematikan adalah karena penyakit ini merusak otak dan jika tidak mendapat penanganan yang tepat, tingkat kematiannya akan semakin tinggi bahkan hingga 100 persen.

Influenza

Virus mematikan
Rumah sakit darurat ketika epidemi Influenza di Camp Funston, Kansas (Wikipedia)

Menurut WHO, sebanyak 500.000 orang di seluruh dunia meninggal karena influenza selama musim flu yang biasa datang setiap tahun. Namun beberapa kali dalam sejarah, jika muncul jenis flu baru, penyebarannya bisa jadi sangat cepat dan akibatnya tingkat kematian meninggi dan berujung pada penetapan status pandemi.

Kasus flu terparah yang pernah terjadi adalah Spanish Flu, yang terjadi pada tahun 1918. Saat itu virus ini menyerang hingga 40 persen populasi dunia dan menewaskan sekitar 50 juta jiwa. Para pakar berpendapat bahwa jika muncul lagi jenis flu baru, hal seperti ini dapat terjadi lagi di Bumi.

SARS-CoV dan SARS-CoV-2

SARS-CoV dan SARS-CoV-2
Hasil pindai mikroskop elektron pada SARS-CoV-2. (Wikipedia)

Virus mematikan yang satu ini adalah virus yang menjadi asal dari pandemi SARS pada tahun 2002. Salah satu jenis virus dari keluarga coronavirus ini kemungkinan muncul dan menyebar lewat kelelawar yang kemudian berpindah ke hewan sejenis musang sebelum menyerang manusia.

Setelah menyebar di China, SARS lalu menyebar ke 26 negara di seluruh dunia dan menginfeksi lebih dari 8.000 orang dan menelan korban hingga  770 jiwa selama kurun waktu dua tahun.

Penyakit yang disebabkan oleh virus ini menyebabkan sindrom saluran pernapasan akut yang pada banyak kasus berkembang menjadi pneumonia. Dengan tingkat kematian 9,8 persen, belum ada pengobatan atau vaksin yang ditemukan untuk virus mematikan ini.

Berasal dari keluarga yang sama, SARS-CoV-2 kemudian muncul pada akhir 2019 lalu dan memiliki nama resmi Covid-19. Penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 ini memiliki tingkat kematian sekitar 2,3 persen. Pada lansia atau penderita yang memiliki kondisi kesehatan lain, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi dan lebih berisiko.

MERS-CoV

Sama dengan dua virus sebelumnya, virus mematikan MERS juga berasal dari keluarga virus yang sama yaitu coronavirus. Pertama kali menyebar di Arab Saudi pada 2012 dan Korea Selatan pada 2015, penyakit ini awalnya menginfeksi unta sebelum menyerang manusia.

Seperti SARS dan Covid-19, MERS juga dapat berkembang menjadi pneumonia dengan perkiraan tingkat kematian antara 30-40 persen, menjadikannya sebuah jenis coronavirus yang paling mematikan. Sebagaimana SARS-CoV dan SARS-CoV-2, MERS juga belum memiliki vaksin dan pengobatan yang disetujui.

Rotavirus

virus mematikan

Virus mematikan yang ini adalah penyebab utama penyakit diare parah yang menyebabkan peradangan saluran pencernaan pada bayi dan anak-anak. Virus ini bisa menyebar dengan cepat melalui fecal-route atau partikel feses kecil yang tertelan.

Dengan telah ditemukannya dua jenis vaksin untuk memerangi rotavirus, jumlah kematian anak-anak di negara maju kini menurun drastis. Akan tetapi di negara berkembang, virus ini masih menjadi masalah terutama di negara-negara yang tindakan rehidrasinya masih belum tersedia. Menurut WHO, ada 453.000 balita di seluruh dunia yang meninggal karena infeksi rotavirus pada tahun 2008.

Hantavirus

Sebagian dari kita pasti pernah mendengar soal hantavirus beberapa waktu belakangan. Munculnya virus ini adalah salah satu hoaks yang sempat beredar seperti beredarnya hoaks tentang hubungan antara jaringan 5G dengan Covid-19. Padahal sebelum Covid-19 menyebar, hantavirus yang berasal dari tikus ini sudah lebih dulu ada.

Berawal pada tahun 1993, virus mematikan yang menyebabkan gangguan saluran pernapasan ini tidak ditularkan oleh sesama manusia akan tetapi lewat paparan urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Sebelumnya, pada tahun 1950-an  sebuah hantavirus jenis lain menyebar selama Perang Korea, di mana lebih dari 3.000 prajurit terinfeksi dan 12 persennya meninggal dunia.

Kesimpulan

Seperti pandemi Covid-19 yang telah memberikan pengaruh pada manusia dan Bumi, berbagai virus mematikan lainnya juga dapat menyerang manusia dengan begitu cepat. Akan tetapi kita percaya bahwa ilmu pengetahuan juga akan terus berkembang sehingga akan semakin banyak manusia yang terlindungi dari paparan berbagai virus mematikan.

Nah itulah 10 virus mematikan yang ada di Bumi, versi Bicara Indonesia. Ikuti terus berbagai artikel menarik seputar antariksa, sejarah, serta misteri-misteri ilmu pengetahuan lainnya hanya di Bicara Indonesia!

Sumber:

  • The 12 deadliest viruses on Earth – Live Science
  • 5 viruses more dangerous than the new coronavirus – MDLinx