Inilah Bagaimana Ruang Angkasa Bisa Menjadi Medan Perang

Perkembangan teknologi, militer, dan persenjataan kian pesat, jadi mungkinkah ruang angkasa bisa menjadi medan perang di masa yang akan datang?

Bayangkan sebuah adegan film sci-fi di mana pesawat-pesawat ruang angkasa didiesain menjadi pesawat tempur dan saling menembakkan senjata laser di ruang hampa udara. Dari Bumi mungkin kita bisa melihat cahaya-cahaya menari dengan indah.

Seperti itukah bagaimana ruang angkasa bisa menjadi medan perang? Mari simak pembahasannya berikut ini.

Deklarasi Ruang Angkasa Sebagai Medan Perang

Desember 2019 lalu, pada sebuah konferensi di London, North Atlantic Treaty Organization (NATO) bermaksud mendeklarasikan ruang angkasa sebagai medan perang secara resmi.

Inilah Bagaimana Ruang Angkasa Bisa Menjadi Medan Perang

Dilansir oleh Reuters, para pemimpin konferensi tersebut mengatakan akan mengakui secara resmi bahwa peperangan dapat terjadi tidak hanya di darat, laut, udara, dan jaringan komputer tapi juga di ruang angkasa.

Deklarasi ini dilakukan atas respon terhadap beberapa pengembangan di bidang teknlogi yang dinilai ‘agak mengkhawatirkan’.

Teknologi apakah sebenarnya yang dimaksud? Bagaimana teknologi ini membuat ruang angkasa bisa menjadi medan perang?

Perkembangan Teknologi Berpotensi Perang

Awalnya, NATO menyadari hal ini ketika Rusia meluncurkan sebuah satelit komersil yang dirancang secara khusus untuk menghampiri satelit lain. Satelit ini memiliki tugas untuk melakukan maintenance pada satelit lain yang sedang dalam orbitnya.

Fungsi dan tujuan satelit ini sekilas nampak tidak berbahaya, namun NATO memandang pengembangan ini juga memiliki potensi kekuatan militer. Karena jika suatu negara atau perusahaan bisa menggerakkan satelit hingga berada begitu dekat dengan satelit negara lain, ada kemungkinan teknologi sejenis pun digunakan untuk tujuan militer dan sabotase.

Pengembangan teknologi lainnya yang menarik perhatian NATO ialah milik Perancis. Negara tersebut mengumumkan pembangunan satelit ‘bodyguard’ yang akan dipersenjatai oleh laser dan senjata mesin.

Sebelumnya juga diumumkan pada tahun 2018 bahwa Amerika Serikat meluncurkan United States Space Force (USSF), satuan militer ruang angkasa yang berada di bawah Departemen Angkatan Udara AS. Dikatakan pula bahwa negara lain juga akan segara menyusul pembangunan satuan militer ruang angkasa seperti ini.

Senjata dan Peperangan Elektronik

Lalu bagaimana sabotase dan peperangan di ruang angkasa yang dikhawatirkan ini dapat terjadi? Senjata seperti apa yang membuat ruang angkasa bisa menjadi medan perang?

Ada satu teknologi yang sebelumnya pernah diuji oleh Eureka Aerospace pada tahun 2007. Teknologi ini melibatkan penggunaan sinar energi gelombang mikro untuk menciptakan sistem elektromagnetik yang dapat menyetop kendaraan yang melaju cepat.

Sistem yang  dilekatkan pada kendaraan seperti mobil atau pada kapal induk ini kemudian akan mengirimkan gelombang radiasi mikro untuk menonaktifkan perangkat elektronik kendaraan tersebut. Perangkat seperti ini diciptakan untuk membantu kinerja para penegak hukum seperti polisi atau militer.

Perangkat dengan konsep inilah yang berpotensi menjadi directed energy weapon atau sebuah senjata berenergi yang dapat diarahkan. Ini memungkinkan negara menonaktifkan satelit milik negara lain. Cukup arahkan perangkat sinar energi gelombang mikro tadi pada sebuah satelit dan serangan yang terjadi akan tampak seperti kecelakaan ruang angkasa atau kesalahan teknis. Tidak perlu ada ledakan atau tabrakan satelit untuk menyabotase satelit negara lain.

Tidak hanya radiasi, ada satu lagi teknologi yang berpotensi menyebabkan ruang angkasa bisa menjadi medan perang, yaitu dengan radio jamming. Penggunaan radio jamming ini telah digunakan untuk mengacaukan radar dan komunikasi pada Perang Dunia II.

Menggunakan gelombang elektromagnetik, perangkat ini akan mencegah penerimaan transmisi radio dan menghasilkan suara bising yang kemudian mengaburkan penerimaan sinyal yang asli sehingga membuat sistem berhenti beroperasi.

Sebelum satelit diluncurkan ke ruang angkasa, biasanya dilakukan pengujian radio noise secara menyeluruh pada satelit. Tapi jika ada satelit lain yang dengan sengaja mengarahkan transmisi radio broadband ke satelit ini maka otomatis komunikasi akan terganggu.

Peperangan elektronik berbasis ruang angkasa seperti inilah yang dikhawatirkan akan menarik perhatian para perencana militer dan membuat ruang angkasa bisa menjadi medan perang.

Laser dan Kinetic Kill Vehicle

Sejauh ini cara yang memang sudah nyata dapat mengacaukan satelit adalah dengan proyektil padat. Cara ini bekerja dengan cara memindahkan atau menggeser satelit. Nantinya satelit yang bergerak ini akan memiliki energi dan momentum kinetik yang sangat tinggi. Jika ada objek lain yang lebih lambat yang diposisikan dengan cepat di jalur satelit tersebut maka akan terjadi tabrakan yang sangat besar.

Sebelumnya cara ini pernah diuji di India. Tujuannya adalah untuk menyingkirkan satelit yang sudah tua atau rusak atau yang sudah tidak digunakan lagi. Tidak hanya India, ada 3 negara lain yang dapat melakukan hal yang sama yaitu AS, Rusia, dan Cina. Dengan teknologi yang disebut kinetic kill vehicle atau kinetic kill ini, suatu negara membuang satelitnya dengan cara menembakkan rudal dari darat ke satelit yang dimaksud.

Cara mengacaukan satelit ini adalah cara yang tergolong ‘halus’. Mereka membuat ledakan dengan rudal untuk membuat debu dan puing sebanyak mungkin yang kemudian akan menghalangi jalur orbit satelit tersebut. Tabrakan ini akan terlihat seperti sebuah kecelakaan dan pada tahun 2007 ketika China melakukan uji coba anti-satellite, kejadian ini terjadi secara tidak sengaja.

Senjata kinetik seperti ini memang mengkhawatirkan tapi ada yang lebih berbahaya yaitu senjata mesin karena memiliki recoil, atau gaya pantul yang timbul ketika suatu senjata ditembakkan.

Jika sebuah senjata ditembakkan pada sudut manapun yang tidak tepat di jalur orbit satelit, sebuah gaya putar akan langsung aktif. Gaya ini akan memindahkan jalur satelit dengan cepat. Ini pernah terjadi sebelumnya tahun 1970-an pada Salyut-3, stasiun ruang angkasa milik Soviet yang dipersenjatai dengan meriam api.

Tidak cuma itu, laser juga bisa dianggap sebagai senjata pertahanan. Dalam hal ini laser digunakan untuk melumpuhkan fungsi satelit dengan menyerang panel suryanya. Tentu saja, jika panel surya sebagai sumber energi ini dinonaktifkan, maka satelit tersebut tidak dapat berkomunikasi dengan stasiun darat.

Ruang Angkasa Bisa Menjadi Medan Perang

Kemudian satelit seperti apa yang sangat berpotensi jadi sasaran perang? Kemungkinan besar adalah satelit yang digunakan untuk komunikasi dan observasi. Sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa satelit kini memiliki kemampuan untuk mengambil gambar dengan resolusi hingga 30 cm.

Satelit kemiliteran bahkan bisa memberikan gambar yang lebih tajam lagi. Negara yang tidak memiliki fasilitas komunikasi atau tidak mampu mengobservasi negara lain mungkin saja tidak akan tahu ketika ada yang menyerang negara mereka.

Dengan segala macam teknologi dan uji coba yang telah dilakukan, seperti apakah nantinya perang ruang angkasa ini akan kelihatan dari Bumi?

Tidak seperti adegan di fim sci-fi yang penuh dengan sinar-sinar yang saling beradu, perang di ruang angkasa yang sebenarnya mungkin akan menggunakan panjang gelombang yang lebih pendek karena akan lebih kuat. Maka kita dari bawah sini kemungkinan tidak dapat melihat apa-apa. Kecuali mungkin kinetic kill vehicle betul-betul dipakai dan meledakkan kapal atau stasiun ruang angkasa.

Jika demikian, akan ada banyak debu dan puing yang bisa mengganggu sinyal di Bumi. Ketika masuk atmosfer pun puing-puing ini akan terlihat terbakar seperti komet, meteor, dan sejenisnya.

Senjata Nuklir

Sebelumnya dijelaskan mengenai radiasi, laser, dan gelombang elektromagnetik. Lalu bagaimana dengan nuklir?

Senjata nuklir dan berbagai jenis senjata pemusnah massal dilarang keras dan diatur di bawah Perjanjian Luar Angkasa dan perjanjian Larangan Uji Nuklir (OST dan CNBT). Walaupun demikian, tidak semua Negara menaati perjanjian ini, ada beberapa yang masih melakukan uji coba senjata nuklir, di antaranya adalah AS dan Korut.

Hal ini karena, sebelumnya pernah dilakukan sejumlah uji coba sekitar tahun 1960-an di AS, salah satunya bernama proyek Starfish Prime, sebuah proyek uji coba nuklir tingkat tinggi. Akibatnya terbentuklah sebuah sabuk radiasi buatan yang terlihat dari Bumi bahkan setelah puluhan tahun kejadian itu berlalu. Ini berbahaya karena dapat mengganggu kegiatan astronot di ruang angkasa.

Sabuk Radiasi Akibat Operasi Uji Coba Nuklir Starfish Prime
Sabuk radiasi akibat operasi uji coba nuklir Starfish Prime tampak dari pesawat. (Wikipedia)

Tidak cuma itu efeknya. Radiasi ini juga menyebabkan 6 satelit orbit rendah tidak dapat berfungsi pada saat itu. Kalau penggunaan senjata nuklir seperti ini berlangsung, maka cuma dengan beberapa ledakan nuklir saja banyak satelit akan kehilangan fungsinya selama bertahun-tahun berikutnya.

Kesimpulan

Seiring berjalannya waktu, teknologi ruang angkasa terus berkembang. Perang di ruang angkasa pun semakin mungkin terjadi. Ketika itulah sejak saat ini, sangat penting diingat bahwa ruang angkasa seharusnya hanya dipakai untuk tujuan damai dan tetap menjadi tempat bagi seluruh umat manusia mengungkap segala misteri ruang angkasa untuk ilmu pengetahuan.

Sumber :

  • Space May Soon Become a War Zone – The Conversation
  • NATO Aims to Make Space New Frontier in Defence – Reuters
  • Stopping Cars with Radiation – Technology Review
  • Radio Frequency Jammers – Ofcom
  • India Destroys Its Own Satellite with a Missile Still Says Space is for Peace – The Conversation