Well, hallo guys, Selamat datang kembali di Bicara Indonesia. Ngomong ngomong sesering apa nih kalian kepoin dunia astronomi? Kalau kalian lagi kepoin dunia astronomi, apa aja topik yang kalian cari? Apakah cuma objek objek di luar angkasa, misi NASA, atau astronot astronotnya? Well, buat kalian yang sering kepoin astronot yang bertugas keluar angkasa, pasti kalain pernah dong mendengar tentang astronot kembar Scott Kelly yang pergi keluar angkasa?.

Pada kesempatan kali ini Bicara akan mengajak kalian untuk membahas mengenai Astronot kembar ini. Ada apa dengan astronot kembar ini? Dengar dengar mereka jadi berbeda loh. Penasaran? Well, simak selegkapnya disini yuk.

Astronot Kembar

Selama ini banyak yang bertanya jika astronot pergi keluar angkasa, apakah mereka akan menjadi lebih tua atau bisa lebih muda. Sebenarnya belum bisa dipastikan. Tapi pembahasan kita mengenai astronot kembar kali ini akan menjawab rasa penasaran kalian mengenai apa yang terjadi pada astronot ketika berada di ruang angkasa.

Scott kelly adalah astronot yang bertugas di ISS selama satu tahun. perubahan gen yang terjadi padanya dijadikan sebuah study oleh NASA untuk memahami perubahan manusia saat berada di luar angkasa. Ia adalah astronot kembar, kembarannya bernama Mark Kelly. mark bertugas di Bumi

Jadi astronot yang akan kita bahas bernama astronot Scott Kelly dengan kembarannya yang bernama Mark Kelly. Mereka berdua adalah astronot yang berdarah Amerika. Perjalanan Penelitian kedua astronot ini dimulai pada tahun 2015 ketika Kelly mengikuti misi ke ISS atau International Space Station.

Misi Scott Kelly Ke ISS

Misi ISS yang Bicara maksudkan adalah misinya 1 tahun berada di ISS. Tapi sebenarnya pada 9 oktober 2010, ia sudah menjalankan sebuah misi di ISS sebagai seorang mekanik. Roket yang membawanya ke ISS adalah roket Soyus TMA 01M. Dalam misi pertamanya ini, Scott hanya bertugas selama 5 bulan.

Tapi tidak sampai disitu saja pada 27 Maret 2015. Kelly kembali membawa 4 Misi ke ISS bersama dengan Mikhail Korniyenko. Roket yang membawanya adalah Soyus TMA 16M. Setelah berhasil menjalankan misi selama 1 tahun, Pada 1 Maret 2016 lalu, ia kembali lagi ke Bumi menggunakan roket Soyus TMA 18 M.

Perbedaan Tugas Scott Kelly dan Mark Kelly

Scott Kelly memang manjalankan Misi ke ISS. Tapi tahukah kalian kalau kembarannya yang bernama Mark Kelly tidak ikut bertugas ke ISS?. Yapp, Mark lebih banyak menghabiskan waktu Misi nya di Bumi dari pada ke ISS. Tapi sebelumnya, tidak ada yang mengira bahwa perbedaan lokasi bertugas kedua Astronot ini menjadi penyebab mereka berdua tidak kembar lagi.

Perubahan Scott Kelly

Saat kembali ke Bumi setelah menjalankan misi 1 tahun di luar angkasa. Ilmuwan menemukan bahwa ternyata Scott kelly menjadi lebih tinggi dibandingkan ketika ia belum melakukan perjalanan ke ISS. Selain tinggi, Kelly juga mengalami perubahan DNA.

Tapi perubahan DNA yang terjadi pada Kelly tidak berlangsung lama. Setelah 6 Bulan kembalinya kelly ke Bumi, DNA nya berubah, ia kembali normal. Tapi, tidak semuanya. 7% gen scott kelly tidak kembali berubah menjadi Normal.

Perubahan Genetika yang terjadi pada Kelly meliputi kerusakan DNA, perubahan ekspresi Gen, penurunan berat badan, penebalan arteri karotis dan retina, serta pemanjangan ujung kromosom yang dikenal dengan sebutan telomer.

Ketika sudah sampai di Bumi, semua perubahan itu kembali normal lagi. Tapi ia mengalami kegagalan sistem Imun. Kegagalan ini adalah efek yang ditimbulkan akibat lamanya ia bertugas di luar angkasa. Hal ini menyebabkan Kelly menjadi mudah sekali lelah beberapa waktu.

Scott Kelly Terpengaruh Luar Angkasa

Menurut para ilmuwan, perubahan yang terjadi pada Kelly adalah akibat dari paparan radiasi luar angkasa dan lingkungan tanpa gravitasi. Ia berada di stasiun luar angasa yang berada di bawah sabuk radiasi Van Allen. Van Allen adalah sebuah pelindung bermuatan partikel energik yang ada di sekitar medan magnet Bumi.

Tapi efek radiasi ini tidak sepenuhnya mempengaruhi Kelly. Sistem kekebalannya selama di luar angkasa berjalan dengan baik. Tubuhnya mau berkontraksi dengan Vaksin flu yang diberikan kepadanya. Vaksin itu bekerja dengan baik layak nya di Bumi.

Seperti yang tadi kita sebutkan, Scott Kelly bertugas di luar angkasa selama satu tahun. Waktu yang dihabiskan oleh Scott selama diluar angkasa itu terbilang sangat lama guys. Karena pada umumnya, astronot bertugas ke ISS hanya dalam kurun waktu 5 sampai 6 Bulan. Dan waktu yang dihabiskan Scott adalah dua kalinya periode misi astronot.

Memang hal ini cukup memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan Scott Kelly. Tapi misi yang dilakukan Scott ini sangat membantu perkembangan Misi manusia tinggal di Mars selama 3 Tahun pada 2023 mendatang.

Scott Kelly Menjadi Bahan Penelitian NASA

Sebenarnya NASA memang sudah mengetahui adanya perubahan genetik pada setiap astronot yang bertugas keluar angkasa. Tapi NASA masih membutuhkan bukti dan penelitian lain untuk membuktikan perubahan genetik pada astronot.

Peluncuran Scott Kelly ke ISS selama satu tahun juga menjadi sebuah studi NASA dalam memahami perkembangan tubuh manusia ketika berada sangat lama berada di luar angkasa. Dan setelah kepulangan Scott ke Bumi, NASA terus mengumpulkan penelitian mengenai kedua astronot ini. Mereka membuat Studi mengenai perubahan gen astronot ketika berada di luar angkasa.

Kesimpulan

Well dari peluncuran Astronot Scott Kelly keluar angkasa kita bisa melihat bahwa luar angkasa mempengaruhi tubuh astronot yang bertugas di ISS. Dan Scott serta Mark Kelly menjadi salah satu bukti penelitian jika teori ini adalah benar. Tapi by the way, dengan tinggalnya astronot kelly di ISS selama setahun saja sudah terjadi perubahan pada gen nya dan menyebabkan kerusakan gen jangka panjang. Kira kira jika nanti misi astronot tinggal di Mars selama 3 tahun dilaksanakan. Apa yang akan terjadi pada astronot itu ya? Hmmm

Sumber :

  • Scott Kelly – Wikipedia
  • Dua Astronot Tidak Lagi Kembar Setelah Turun ke Bumi – Liputan 6
  • Studi Pada Astronaut Kembar Ini Ungkap Dampak Perjalanan ke Luar Angkasa – National geographic
  • Twins Study – NASA
  • NASA’s Twins Study Results Published in Science Journal – NASA